• RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter

Selasa, 21 Juni 2011

Palestina dalam Sejarah Islam


lansia, ulama dan orang-orang shaleh Mesir. Perintah untuk ber-amar ma’ruf
wannahyu anil munkar menyebar di kalangan tentara, maka mereka keluar dari Mesir
sebagai pasukan yang dalam kondisi taubat, bersih dan sakral membela agama Allah
dan menancapkannya di bumi. Sebagaimana pasukan Islam ini juga dipimpin oleh
komandan yang beriman yang berhiaskan dengan “keinginan untuk berperang”
yang menjadi fenomenanya yang paling kuat dan menjadi faktor kemenangan yang
paling signifikan dalam pertempuran apapun.
Qutz meminta kepada pasukannya untuk menunggu hingga setelah shalat Jum’at
“Janganlah kalian melancarkan serangan kepada mereka hingga tergelincir
matahari, memberikan bayang-bayang, angin bertiup dan para khatib di masjid serta
manusia lainnya mendoakan kita dalam shalat-shalat†, dan setelah itu baru dimulai

pertempuran.
Di tengah berlangsungnya pertempuran, isteri Qutz “Jullanar†mati terbunuh

dalam Jihad ini. Maka ia bergegas mendekatinya dengan berteriak “Oh wahai
kasihku!†pada detik-detik nafas terakhir kepergian isterinya. Isterinya membalas

dengan berkata kepadanya : “Jangan engkau katakan itu tapi katakanlah Islamah
(duhai Islam)†, kemudian terangkatlah rohnya kepangkuan Rabnya setelah


menyampaikan pesan tersebut bahwa urusan Islam dan Jihad di jalan Allah adalah
lebih penting dari cinta dan hubungan pribadi. Maka Qutz berdiri tegak dan membalas
dengan mengucap : “duhai Islam….duhai Islam…..dan seluruh pasukan
mengumandangkan teriakan yang sama sehingga berakhir dengan kemenangan.

Di saat perang, kuda Qutz terbunuh lalu ia turun dan terus bertempur walau tanpa
kuda sehingga pasukannya memberikannya kuda lain. Namun ia menolak untuk
mengambil kuda pangeran lainnya yang secara sukarela memberikan itu kepadanya
dengan mengatakan bahwa ia tidak mau untuk menghalangi mereka dalam
menunaikan tugas suci ini. Sebaliknya ia harus berusaha sendiri untuk dapat
menyelamatkan diri. Ia ditanya mengapa tidak mau menunggang kuda dan kalau saja
para musuh melihat maka akan membunuhnya dan Islam akan dipecundangi. Ia
menjawab : “Kalau saja saya terbunuh, maka saya telah pergi ke surga. Dan Islam
maka ia punya Tuhan yang tidak akan melenyapkannya†. Dan setelah usai dan


kemenangan ada di pihak Islam, Qutz turun dari kudanya berjalan dan mengusap
mukanya dengan debu medan tempur serta sujud di hadapan Allah bersyukur kepada-
Nya yang telah mengaruniakan kemenangan.

Kaum muslim langsung bergerak mengejar orang-orang Mongol, dan Qutz memasuki
kota Damaskus hanya lima hari setelah berakhirnya peperangan Ain Jalut. Pengejaran
berlanjut ke Aleppo dan ketika mereka mengetahui bahwa pasukan Islam sudah
mendekat, mereka putuskan untuk meninggalkan tawanan muslim. Dan ini bagi
mereka adalah malapetaka yang berat. Hanya dalam satu bulan umat Islam dengan
kepemimpinan Al Mamalik berhasil mengembalikan negeri Syria dari Mongol dan
Tatar.

Peperangan ini adalah salah satu peperangan yang signifikan dalam sejarah, karena
berhasil menghentikan ekspansi orang-orang Tatar yang tidak dapat diberhentikan
oleh kekuatan apapun sebelumnya. Dan ini merupakan permulaan bagi episode
kekalahan-kekalahan yang berlanjut dan mengembalikan Mongol kepada basis-basis
mereka semula dan mampu untuk memerdekakan negeri-negeri Islam yang mereka
27

kuasai. Kemudian orang-orang Mongol yang tetap menetap di negeri-negeri Islam berpindah ke agama Islam, mereka berbondong-bondong memeluk agama Allah ini yang merupakan kemenangan baru umat Islam.
Al Mamalik dan Pemusnahan Kekuatan Salibis :

Kendati pasang naik kekuatan Mongol Tatar dapat diusir dari bumi Palestina dan umat
meraih kemenangan yang gemilang di pertempuran Ain Jalut, namun kerajaan Salibis
di Akka tetap saja bertahan dengan kekuasaannya yang mencakup wilayah pesisir
yang membentang dari Jaffa ke Akka. Para sultan dari dinasti Mamalik mengambil
tugas pembebasan tanah tempat Isra’ dan negeri Syria yang tersisa sehingga tiba
masa di mana kekuatan Salibis yang terakhir dapat diusir setelah lebih dari 30 tahun
paska perang Ain Jalut.

Yang mensuksesikan sultan Qutz adalah Al Dhaher Bebar, yang berkuasa hanya satu
tahun. Bebar punya kontribusi signifikan dalam memerangi dan mengeluarkan
kekuatan Salibis dari Syria dengan cara menghujani basis-basis mereka dengan
serangan demi serangan secara terus menerus. Namun terkadang ia harus
mengakomodir kesepakatan daman dengan mereka bila memang diperlukan. Dan
biasanya hal seperti ini berlangsung dalam waktu sepuluh tahun, sepuluh bulan,
sepuluh hari dan sepuluh jam. Dan setelah mampu untuk menanggulangi berbagai
problema internal negeri, ia kembali turun dalam kancah peperangan dengan Salibis.
Dan pada tahun 662 H-1263 M, ia memasuki wilayah Palestina. Setelah pasukannya
tiba di daerah Akka, Salibis mendatanginya untuk meminta pembaharuan kesepakatan
genjatan senjata dan menyetujui pembebasan para tawanan muslim serta memelihara
berbagai kesepakatan dan piagam. Namun Bebars mempertimbangkan tuntutan
mereka dan terus melangkah menyerang berbagai basis kekuatan mereka, khususnya
di Akka. Ini dilancarkan untuk mengetahui titik-titik kekuatan dan kelemahan yang
ada pada mereka sehingga datang waktunya untuk menyelamatkan negeri-negeri dan
tempat-tempat yang diduduki. Dan kekuatan Salibis tidak dapat membendung advansi
kekuatan ini.

Pada tahun 664 H-1265 M, Al Dhaher Bebars kembali menginvasi Palestina dan dapat
menguasai Al Qaisariyyah al Muhsanah, menghancurkan dinding-dindingnya.
Sebagian pasukannya menyerang wilayah Akka dan sebagian lainnya menyerbu
Haifa. Kemudian kota Arsouf jatuh ke dalam genggamannya pada tahun yang sama.

Pada tahun berikutnya, ia kembali keluar ke Palestina mengepung Safad, menduduki
dan menghancurkan dinding-dindingnya. Kemudian pada tahun 666 H-1267 M,
kembali ke Palestina dan datang menghadap kepadanya delegasi Salibis untuk
meminta genjatan senjata. Ia biasa mengikuti strategi devide and rule dalam
berhubungan dengan kekuatan Salibis agar supaya kekuatan mereka tidak dapat
bersatu untuk melawannya dalam satu waktu. Politik seperti ini yang membantu
dalam menaklukkan kota Antakiya pada tahun 667 H (1268 M). Ini dianggap sebagai
kemenangan yang paling gemilang yang diraih oleh umat dari Salibis setelah
keberhasilan Shalahuddin al Ayubi membebaskan kota Al Quds pada tahun 583 H
(1187 M). Setelah keberhasilannya untuk menduduki Antakiya, Bebar sepakat untuk
mengadakan perjanjian damai dengan Akka yang berlaku hingga 10 tahun dengan
syarat bahwa ia harus menguasai setengah dari wilayah Akka dan mengendalikan
dataran tinggi di sekitar Sayda.
28

Setelah wafaatnya al Dhaher Bebars, Sultan al Mansur Sayfuddin Qalawoun
meneruskan langkah predesesornya untuk memerdekakan negeri Syria dari hegemoni
Salibis. Pada masa kekuasaannya ini, terbentuknya aliansi besar melawan umat Islam
yang terjalin antara kekuatan Salibis, Tartar dan Sanqur al Ashqar, wakil penguasa
Damaskus yang berpaling dari orang Islam. Tapi aliansi ini gagal dan Qalawoun mulai
memperketat tekanannya terhadap Salibis dan berhasil menduduki pelabuhan Al
Marqab pada tahun 688 H (1285 M). Ia juga menaklukkan Al Ladeqyya pada tahun
686 H (1287 M) dan Tripoli pada tahun 688 H (1289 M). Qalawoun dapat
memanfaatkan instabilitas yang terjadi pada negara Salibis di Akka secara khusus dan
di negeri-negeri Syria pada umumnya karena perebutan kekuasaan yang sedang
terjadi. Ia adalah sosok pemimpin yang kuat yang dapat mengeliminasi kehadiran
Salibis di wilayah Arab bagian timur. Pada daerah pantai Shami, Salibis hanya
menguasai wilayah Akka, Sour, Sayda dan Etleet.

Sekarang bagi Qalawoun adalah momen yang paling tepat untuk mengeliminasi
Salibis dari bumi Palestina secara total. Ia memanfaatkan peristiwa penyerangan yang
dilancarkan oleh mereka yang membunuh beberapa jemaah haji muslim sebagai
sebuah dalih untuk mendeklarasikan jihad melawan Salibis. Ia menyeruhkan seluruh
pasukan bersenjatanya dari Mesir dan Syria. Ia berdiam di luar kota Kairo untuk
menunggu kedatangan balabantuan, tapi ia terjatuh secara tiba-tiba lalu meninggal
dunia pada tahun 689 H (1287 M). Sebagai suksesornya adalah anaknya yang
bernama Ashraf Salahuddin. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Salibis untuk
menawarkan Ashraf perjanjian lain, tapi itu ditolak dan ia kerahkan pasukan
bersenjatanya untuk mengepung Akka yang berhasil dimerdekakan pada tahun 1291
M. Raja Akka, Henry Kedua berhasil lolos melarikan diri ke Cyprus. Setelah
menaklukkan Akka, Ashraf menduduki Sayda, Sour, Haifa dan Etleet. Ia juga
memerintahkan kepada pasukannya untuk membumihanguskan seluruh benteng-
benteng yang ada di kota-kota tersebut. Jadi, basis terakhir kekuatan Salibis telah
dihancurkan oleh tangan-tangan dinasti Al Mamalik, dan akhirnya eksistensi mereka
di Palestina dan Syria dapat diselesaikan secara total setelah dua abad dari tahun 492-
690 H. (1099-1291 M). Dengan prestasi ini, Palestina kembali berada di bawah
pemerintahan Islam hingga berakhir pada masa di saat kekuatan Inggris berhasil
menjajah wilayah ini.

2 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2010 i love islam - All Rights Reserved.
Designed by Web2feel.com | Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com | Affordable HTML Templates from Herotemplates.com.